Ketika Dua Puasa Bertemu: Teguran Sunyi bagi Indonesia
Oleh Bripka Simeon Sion H. S.Kom
Hari ini, Rabu 18 Februari 2026, umat Katolik resmi memasuki masa Prapaskah, sebuah masa pertobatan yang dimulai dengan Rabu Abu. Sementara itu, umat Islam di Indonesia bersiap menyambut Ramadan yang akan dimulai esok atau lusa, menunggu penetapan resmi melalui sidang isbat kementerian agama RI.
Kedekatan waktu ini bukan sekadar peristiwa kalender. Ia adalah peristiwa moral. Dalam ruang publik Indonesia yang kerap gaduh oleh polarisasi, perjumpaan dua tradisi puasa besar ini terasa seperti “interupsi ilahi” sebuah momen ketika Tuhan seakan meminta bangsa ini berhenti sejenak dan bercermin.
Dalam tradisi Katolik, Prapaskah adalah jalan pertobatan menuju Paskah. Dalam Islam, Ramadan adalah madrasah ketakwaan menuju kemenangan Idulfitri. Ketika keduanya berlangsung hampir bersamaan, kita menyaksikan sebuah ironi sekaligus harapan: dua komunitas iman terbesar di negeri ini menjalani latihan spiritual yang sama menahan diri di tengah budaya publik yang justru gemar melampiaskan diri.
Momentum ini menjadi semakin simbolik jika diingat peristiwa tahun 2024 di Masjid Istiqlal, ketika Paus Fransiskus dan Nasaruddin Umar menandatangani Deklarasi Istiqlal. Dokumen itu menegaskan bahwa agama harus menjadi energi perdamaian, bukan bahan bakar konflik. Kini, melalui puasa yang berdekatan, semangat deklarasi tersebut diuji: apakah ia akan berhenti sebagai teks simbolik, atau menjelma menjadi etos kebangsaan?
Saya melihat puasa tahun ini sebagai kritik diam terhadap wajah Indonesia hari ini. Di tengah kasus korupsi yang terus bermunculan, gaya hidup hedonistik pejabat, dan percakapan publik yang penuh kebencian, puasa terdengar seperti suara lirih yang berkata: “Cukup.”
Puasa mengajarkan bahwa manusia tidak dikuasai oleh nafsunya. Ia menata ulang relasi dengan harta, kuasa, dan ego. Dalam logika puasa, rakus adalah bentuk kegagalan spiritual. Maka jika para pejabat rajin berpuasa tetapi tetap korup, yang salah bukan pada ajaran agamanya, melainkan pada integritas pelakunya.
Di titik ini, pernyataan bahwa “Tuhan mulai bosan melihat tingkah manusia Indonesia” bukanlah tudingan teologis, melainkan metafora moral. Ia menggambarkan kegelisahan kolektif: bangsa religius yang begitu fasih berbicara tentang Tuhan, tetapi sering gagap menerjemahkan iman dalam kejujuran dan keadilan.
Bahaya terbesar dari puasa adalah ketika ia berhenti sebagai seremoni tahunan. Kita sibuk menghitung hari, sibuk menyiapkan menu berbuka atau pantang, tetapi lupa menghitung perubahan diri.
Padahal, puasa yang sejati seharusnya melahirkan manusia baru: lebih rendah hati, lebih peduli, lebih berani berkata benar. Tanpa itu, puasa hanya menjadi rutinitas kultural.
Kedekatan Prapaskah dan Ramadan menghadirkan peluang langka: dua komunitas besar bangsa ini sedang “dididik” secara bersamaan dalam sekolah pengendalian diri. Bayangkan jika energi spiritual ini benar-benar diterjemahkan dalam kehidupan sosial dalam politik yang lebih beradab, dalam ekonomi yang lebih adil, dalam percakapan publik yang lebih santun.
Simbol kedekatan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta bukan sekadar arsitektur fisik. Ia adalah pesan permanen bahwa Indonesia dibangun bukan untuk saling meniadakan, melainkan untuk berdampingan.
Puasa yang berbarengan tahun ini adalah perwujudan spiritual dari simbol tersebut. Ia membuktikan bahwa perbedaan tidak harus melahirkan kecurigaan; ia bisa melahirkan solidaritas.
Ancaman intolerasi dibeberapa tempat di Indonesia seharusnya dibaca sebagai ancaman yang merupakan alarm penting bubarnya kerukunan sebagai landasan kuat persatuan. Bangsa bisa runtuh bukan karena perbedaan agama, tetapi karena kehilangan etika bersama.
Dan puasa, pada dasarnya, adalah latihan etika.
Apakah benar Tuhan “mulai bosan”? Barangkali bukan bosan dalam arti harfiah. Namun kedekatan dua masa puasa ini dapat dibaca sebagai teguran halus: berhentilah merasa paling benar; berhentilah memonopoli kebenaran Tuhan; berhentilah menjadikan agama sebagai alat superioritas.
Puasa justru mengajarkan kerendahan hati bahwa di hadapan Tuhan, semua manusia sama-sama lapar, sama-sama rapuh, sama-sama membutuhkan rahmat.
Hari ini umat Katolik telah memulai puasanya. Besok atau lusa, umat Islam akan memulainya setelah keputusan sidang isbat diumumkan. Dalam rentang waktu yang sangat dekat ini, Indonesia seperti memasuki “musim hening” bersama.
Jika umat Katolik dan umat Islam bisa berjalan berdampingan dalam lapar dan doa, seharusnya mereka juga mampu berjalan bersama dalam membangun bangsa. Di situlah letak harapan Indonesia: bukan pada keseragaman, melainkan pada kesediaan untuk menahan diri demi kebaikan bersama.
Mungkin, di antara rasa haus dan lapar itu, Tuhan tidak sedang bosan. Ia sedang menunggu.
Menunggu apakah bangsa ini sungguh-sungguh belajar dari puasanya.
Sebab bangsa yang besar bukanlah bangsa yang paling sering menyebut nama Tuhan, melainkan bangsa yang paling setia mewujudkan nilai-nilai-Nya dalam kehidupan nyata.
Diangkat dari renungan Aventius Jaman ( Staf Bimas Katholik Kementerian Agama DI Yogyakarta )




