Satu Jam Bersama Kapolres Kupang AKBP Rudy Junus Jacob Ledo, S.I.K., S.H: Ketika Waktu Menjadi Modal untuk Menanam

Satu Jam Bersama Kapolres Kupang AKBP Rudy Junus Jacob Ledo, S.I.K., S.H: Ketika Waktu Menjadi Modal untuk Menanam
Kapolres KUpang AKBP Rudy JUnus Jacob Ledo, s.I.K.,S.H saat menanam jagung dilahan ekowisata Tantya Sudhirajati POlres Kupang awal November 2025 lalu

Oleh: Bripka Simeon Sion H. S.Kom

Satu dari sedikit perwira Polri yang menunjukkan kepedulian nyata terhadap lingkungan adalah Kapolres Kupang, AKBP Rudy Junus Jacob Ledo, S.I.K., S.H. Kepedulian itu tidak berhenti pada wacana atau instruksi, melainkan hadir dalam tindakan sehari-hari yang dilakukan secara konsisten.

Selama satu jam bersama Kapolres Kupang, TribrataNews menyaksikan langsung potret kepemimpinan yang hidup—kepemimpinan yang tidak diam di balik meja, tetapi bergerak bersama alam dan lingkungan sekitarnya. Bertempat di salah satu lopo Ekowisata Tantya Sudhirajati, kawasan yang dibangun berkat kekompakan, kebersamaan, dan semangat gotong royong seluruh personel, AKBP Rudy nyaris tak pernah duduk tenang. Pandangannya terus menyapu sekitar, langkahnya berpindah dari satu sudut ke sudut lain, memastikan setiap detail lingkungan terjaga dan berfungsi sebagaimana mestinya.

Kepedulian itu terasa semakin kuat karena AKBP Rudy merupakan putra daerah Nusa Tenggara Timur, yang memahami betul karakter alam dan iklim daerahnya. Pengetahuan yang lahir dari kedekatan dengan tanah kelahirannya membuat setiap langkah yang diambil terasa kontekstual dan membumi.

Dalam kebersamaan singkat itu, Kapolres Kupang tampak jauh dari kesan formal. Ia justru terlihat memegang seeder bahkan gejik, menanam jagung hibrida pada salah satu ruas ekowisata. Tanpa ragu dan tanpa sungkan, ia menyatu dengan tanah yang digarapnya. Sebuah pesan kuat tentang kepemimpinan yang memberi teladan melalui perbuatan, bukan sekadar perintah.

Menanam, bagi AKBP Rudy, bukan sekadar aktivitas fisik, melainkan filosofi hidup. Ia dikenal gemar bekerja dengan cara menantang alam. Jagung ditanam di lahan yang oleh sebagian orang dianggap tidak akan berhasil. Namun ia memilih mencoba terlebih dahulu. Bagi banyak orang, keterbatasan tanah, cuaca, dan air menjadi alasan untuk berhenti. Baginya, alam justru harus diajak berdialog melalui percobaan, ketekunan, dan kesabaran.

Tak hanya menanam, Kapolres Kupang juga gemar membersihkan rumput liar dan gulma yang tumbuh di kawasan tersebut. Aktivitas sederhana, namun sarat makna. Ia percaya, keberhasilan besar selalu diawali dari kepedulian terhadap hal-hal kecil yang dikerjakan secara konsisten.

Hasil dari kebersamaan dan konsistensi itu kini terlihat nyata. Kawasan Ekowisata Tantya Sudhirajati tampak semakin asri dan tertata. Di dalamnya berdiri green house sebagai pusat pembibitan, kolam ikan air tawar yang mendukung ketahanan pangan, serta kebun pisang dengan aneka jenis yang tumbuh subur dan kini tinggal menunggu masa panen. Semua menjadi bukti bahwa kerja bersama akan melahirkan hasil yang berkelanjutan.

Dalam setiap pengabdiannya, AKBP Rudy memegang teguh moto tugasnya, yakni “Bersyukur dan bersuka citalah dalam melayani masyarakat.” Moto ini tercermin dalam caranya bekerja—penuh semangat, rendah hati, dan menjadikan pelayanan sebagai bentuk syukur atas kepercayaan yang diberikan negara dan masyarakat.

“Waktu adalah modal untuk menanam,” ungkapnya singkat namun dalam. Kalimat itu menjadi cermin cara pandangnya dalam memimpin dan menjalani kehidupan. Setiap waktu yang diisi dengan kerja nyata hari ini diyakininya akan menjadi investasi bagi masa depan—baik bagi lingkungan, institusi, maupun masyarakat.

Ekowisata Tantya Sudhirajati bukan sekadar ruang hijau atau tempat singgah. Ia adalah cermin nilai: kerja keras, kemandirian, kepedulian terhadap alam, serta semangat swasembada yang dimulai dari lingkungan sendiri. Di tempat inilah, Kapolres Kupang menunjukkan bahwa tugas kepolisian tidak hanya soal penegakan hukum, tetapi juga tentang hadir, menanam, dan menjaga kehidupan.

Satu jam bersama AKBP Rudy Junus Jacob Ledo terasa singkat, namun cukup untuk menegaskan satu hal penting: perubahan tidak lahir dari diam. Ia lahir dari keberanian mencoba, kesediaan bekerja, dan kebersamaan dalam melayani. Dan selama waktu masih ada, ia memilih untuk menanam.